SELAMAT DATANG DI BLOG EFRAIM VG

Terima kasih, anda telah mengunjungi Blog kami,
Media ini dibuat sebagai Sarana informasi dan komunikasi antar Anggota Efraim Vocal Group,
Blog ini terbuka untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi sepanjang
hal tersebut masih dalam sesuatu yang postif dan membangun.

Kami berharap kiranya media ini dapat menjadi berkat serta menjadi sesuatu yang berguna untuk kita bersama, Tuhan Memberkati.

Efraim VG

Senin, Juli 06, 2009

Hepi Bersdey devi...

Tanggal 04 Juli kemarin adalah hari ulang tahun Devi, sebetulnya tidak ada kejadian apa-apa kalau tidak ada Sms masuk ke setiap anggota efraim dari Pipit (Suami tercinta Devi) yang mengatakan untuk datang kerumahnya, dan plan adalah membuat Surprise untuk Istri tercinta...wah harus atur jadwal nih, karena bertepatan juga dengan Pernikahan Dian Suboko hari itu juga, setelah berembuk dengan beberapa teman maka kita janjian ketemu di depan jalan rumah Pipit-devi, tapi apa yang terjadi.....mau tau...besok saya sambung lagi yah...sekarang mau pulang dulu...udah malam....he he he he...sampai besok!

RF

Sabtu, Juli 04, 2009

Sibuk

Kalo dilihat nih...kayanya Efraim lagi pada sibuk semua, belakangan ini udah berapa kali mau latihan gagal, ada aja hambatan untuk bisa kumpul lagi, seperti semalam, tadinya bisa untuk latihan ternyata harus ada yang dikerjakan sampai malam, sehingga batal ikut latihan, padahal udah ada lagu baru yang akan dilatih, gimana yah supaya kita bisa kumpul dan dapat lebih bersemangat lagi ? ada masukan gak...

Roy

Selasa, Juni 30, 2009

Team VG dan Plan Safari di Mupel Jabar II

Team VG ini terdiri atas AGP dan GP jadul yang berkolabaorasi untuk mengikuti ajang festival VG yang diadakan PGIS, sayangnya 1 minggu menjelang hari 'H' dibatalkan oleh pihak penyelenggara dikarenakan satu dan lain hal (Klarifikasi sudah dilakukan oleh Ketua Panitia sendiri)
Kecewa...ya pasti ada..,karena sudah banyak wak
tu yang dibuang untuk berlatih dan membuat tim ini bisa menjadi baik, tapi masih banyak cara untuk mengatasi kekecewaan itu, maka setelah berembuk kita sepakat untuk melakukan Safari Pelayanan di Mupel Jabar II untuk waktu yang belum dibatasi, kita akan pelayanan keluar dari Zebaoth, untuk itu maka Tim VG Zebaoth (kita namakan saja begitu - disingkat "TIVAGOZ" yah..) memulai pelayanannya dengan Bernyanyi di GPIB Petra Ciluar pada Ibadah jam 18.00, dengan tim yang ikut : Rien, Novi, Frans, Ari, Nova, Roy, Yasmin, Jack, Rico, Kaset, Keke, Iqhe daan pendamping Skundita (thx untuk Fotonya yah)



lagu yang kita bawakan adalah Arr lagu wajib pertandingan VG dan satu lagu bebas dari Efraim VG, berdasarkan beberapa masukan yang diberikan oleh jemaat Petra cukup memuaskan dan terbilang Sukses, untuk itu kita akan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi Tuhan lewat puji-pujian yang kita miliki.



GBU
RF

Senin, Juni 29, 2009

Bagi yang Ingin Posting Tulisan, Foto, dll

Bagi teman2 yang ingin memposting/memberi suatu tulisan, Foto atau Lagu2 untuk dimuat ke dalam Blog Efraim dapat mengirimkan file tersebut ke alamat royferdinandus@yahoo.com, semua tulisan yang masuk sebisa mungkin tidak akan dikurangi atau ditambah sepanjang tulisan tersebut berdampak positif dan masih dapat diterima oleh publik (you know lah...) jangan lupa tulisakan nama anda, mudah2an saya sempat untuk perbaiki blog ini supaya bisa lebih baik lagi, trims

Moderator

Sabtu, Juni 27, 2009

yang bener aja.....

Temans..banyak kejadian lucu setiap kali efraim tampil. Kadang kala suka lupa lirik (ngarang lirik sendiri, atau pas solo ambil lirik orang lain hehehehe), blm waktunya masuk syair udah duluan, intro yg berubah (ga janjian dl neh gitaris) :-D dan semuanya bisa "diindentifikasikan" kalo kita senyum2 ga jelas, nahan ketawa, pura liat ke mana geto d..bisik2 (komat kamit hehehe). Yg paling parah menurut gw adalah pada saat efraim tampil di acara S.20 (untung nyanyi di sektor sendiri yach hahahaha) mulai dari intro awal smp tengah lagu "ooo kacaaauuuuu", bingung dgr intro nada pertama ambil suara "pam para para" dan terjadilah 2 kali pengulangan hahahahaha tetep kacau. semua ga punya nyali ngeliat jemaat, ada yg angkat alis alias bingung :-D
Apa yang terjadi, ada pembelajaran..berapa kalipun kita latihan tp ga dimulai dgn doa setiap kali bernyanyi pasti ada kejadian yg "aneh tp nyata" hahahaha n anggap enteng lagu karena udh pernah dinyanyiin. God Bless U all n tetep semangat melayani.



by : Bunda Lovely

Selasa, Juni 23, 2009

Cerita tentang Face Book

Belum lama gw punya Facebook, situs jejaring sosial yang genap 5 tahun hari Rabu kemarin. gw mulai ber FB kira kira 1 tahun yang lalu, pada umur 47 tahun, terbawa arus orang2 yang mencoba sesuatu yang sangat biasa buat anak anak kita. Anak perempuan gw yang berusia 16 tahun, Grace, menangis karena saking malunya, ketika gw bilang ama dia bahwa gw pengen punya facebook, dan dia mohon2 ama gw, untuk membatalkan rencana gw tersebut. Dan ketika gw akhirnya punya facebook, dia memaksa gw berjanji untuk tidak ‘berteman’ dengannya. Saat itu gw ngga ngerti apa yang dia maksud, dan gw setuju. Dan akhirnya, minggu lalu-setidaknya sampai hari selasa, gw sign off dari facebook untuk selamanya.

Pernah gw ngalamin kejadian kaya film2 di Hallmark; gw lagi duduk sendiri di kantor, mikirin ‘status update’ apa lagi yang akan gw tulis, sehinggas semua teman online gw akan tau gw lagi ngapain saat ini. Dan pada saat itu, gw berfikir, ‘gila! Apa yang terjadi ama gw?’

Selamat tinggal 175 teman facebook, 75 diantaranya gw nggak kenal kalo kita ketemu di jalan. Selamat tinggal yang namanya aplikasi aplikasi di facebook, dan gak ketinggalan 1,332,359 anggota grup pembenci crocs: ‘gw gak peduli betapa nyamannya crocs, lo terlihat bodoh memakainya’. Selamat tinggal william dan mary, temen alumni 25 tahun yang lalu, yang gw udah gak inget lagi. Ngga sama elo, tom, dan tom yang satunya lagi. Dan selamat datang sama kerjaan gw yang nyata. Gw gak akan bisa nulis cerita gw tentang gw berhenti facebook ini kalo gw gak berhenti facebook, soale gw gak akan punya waktu untuk menulisnya.

Gw nyesel kalo gw inget2 waktu gw yang tebuang percuma di facebook setahun terakhir ini, padahal gw bisa melakukan hal hal laen yang lebih bermanfaat. Daripada gw posting komentar di fotonya temennya temen gw, Lebih baik gw usaha nyari sumbangan buat korban perang di Darfur, bantu2 di tempat penampungan binatang terlantar, atau sumbang makanan ke gelandangan. Gw tambah nyesel karena tau gw gak akan pernah ngelakuin hal hal tersebut, walopun gw banyak waktu senggang,

Gw kecanduan facebook. Gw install aplikasi facebook di blackberry gw, sehingga gw selalu update dan tau ketika ada seseorang yang dulu suka bareng ke sekolah waktu sd, bilang kalo gw masih punya jerawat. Mata gw selalu terpaku baca facebook di BB gw, dan gw udah gak peduli lagi dengan orang2 di sekitar gw, sampai suatu hari gw kepeleset dan jatoh menimpa orang berkursi roda. Gw sakit hati ketika orang itu menolak untuk berteman dengan gw. Akhirnya gw sadar bahwa kehidupan nyata itu ngga seperti itu.

Jangan marah yah mantan teman2 gw di facebook. Gw bakal kangen update status lo tentang lo lagi nyuci piring, atau lagi beresin eek-nya kucing lo. Gw bakal kangen liat foto2 lo di pantai, sunset, salju di jalanan. Dan gw juga bakal kangen buat posting status dan poto gw. Serius. Gw bakal kangen liat update nama lo muncul, bilang kalo lo lagi kemping Costa Rica, atau bilang kalo lo cuma makan ikan tuna, bukan lumba lumba. Dan yang paling penting lagi, gw bakal kangen ama ratusan foto bayi,yang ngingetin gw betapa bahagianya gw, sekarang bayi gw udah pada gede.

Ada satu hal yang gw gak akan pernah kangenin; berteman atau tidak berteman dengan seseorang. lo akan dapet request, katakanlah dari Siffy McGee, tapi lo gak pernah inget/kenal nama itu. Bisa saja gw ama dia berteman dengan orang yang sama. Atau bisa juga gw dan dia ternyata sekolah di SMA yang sama. Masuk akal, soale banyak banget nama khas old virginia semacam William atau Mary dengan nama belakang Biff, Buff atau Ridge. Trus lo pikir2, sudahlah… trus lo add deh tuh orang… dan dalam hitungan menit, wall lo akan dipenuhi posting semacam ‘Spiffy McGee…..’ atau ‘Spiffy makan cacing!’ lengkap dengan fotonya. Kemudian lo panas buat nandingin apa yang ditulis Spiffy, trus lo tulis ‘Steve lagi mood begituan ama yayangnya pagi ini’. Serius, gw pernah nulis kaya gitu.

Update status facebook itu mirip sama lo dengerin orang yang suka telpon-telponan, sperti lo lagi naik Amtrak, dan orang yang duduk di depan lo, lengkap dengan handsfree bluetoothnya, gak bisa brenti ngomong barang sedetikpun. Jadi lo terpaksa duduk sambil dengerin dia ngomong ‘sayang, aku udah di amtrak sekarang…aku udah duduk di tempat dudukku… aku sekarang lagi lepas jaketku..’

Ikutan facebook artinya lo merelakan diri lo nerima spam, semakin banyak temen yang lo punya, semakin banyak spam yang lo terima. Akhirnya, facebook adalah situs yang paling kosong, paling sepi di internet. Statis dan datar. Dan status updates yang terus menerus berdatangan, lama lama udah kaya ASDF, ASDF, ASDF.

Akhirnya gw putusin buat manfaatin waktu luang gw dengan ngelakuin sesuatu yang lebih berharga dan produktif. Gw mau facebook yang nyata; tempat nongkrong (bar) dimana semua orang kenal ama elo. Status update disampaikan secara langsung ke orangnya, misalnya lo ngomong ama orang di sebelah lo: ‘dia ada masalah dengan alkohol, gw liat dia kesini tiap minggu’ atau ‘menurut lo perang sipil jadinya gimana, kalo Abraham Lincoln bukan berjenggot, tapi ber tentakel kaya cumi?’ Jadi, selamat tinggal 150 juta calon temen dan mantan temen facebook, termasuk elo, dan hello John Boswell, bartender paling oks di Amerika. Kalo lo mo nyari gw, gw duduk di bangku ke tiga sebelah kanan. Dan kalo lo mo kenalan ama gw, traktir gw bir.

RF

Sabtu, Juni 20, 2009

CARA TUHAN

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.

Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.

Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?

Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.

Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.

Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.

Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.


Disadur dari Andy Corner-Kick Andy 070609